Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Buku Seri Mendampingi Anak Belajar di Rumah

Edukasimaster.blogspot.com - Buku Seri ini memiliki daftar isi diantaranya:Pertama Mengapa Anakku Tidak Ma Belajar di Rumah?, Kedua Sebelum Proses Belajar, Ketiga Saat Mendampingi Anak Belajar, Keempat Membuat Anak Menikmati Proses Belajar, Kelima Setelah Proses Belajar.

Mengapa Anakku Tidak Mau Belajar di Rumah?

Apakah kita sering terpikir hal-hal seperti ini: “Duh anakku kok susah fokus sih?”

“Udah diajarin tapi kok ga ngerti-ngerti?” “Maunya main aja, ga mau belajar!”

Apa Itu Belajar?

• Belajar adalah sebuah proses yang terus menerus

• Tujuan belajar pada anak adalah untuk membantunya memahami sesuatu yang akan ia gunakan untuk memecahkan masalah sehari-hari

• Proses belajar dapat terjadi melalui pelajaran, pengajaran, percobaan, dan mengambil hikmah dari kesalahan

• Bagaimana cara untuk memecahkan masalah melalui pengalaman?

Dengan memberi kesempatan anak untuk mencoba, untuk memecahkan masalah yang sesuai dengan usianya dan mengalami kesalahan

• Kesalahan dan kegagalan adalah bagian alami dari proses belajar

• Proses belajar yang baik membutuhkan persiapan sebelumnya. Dukungan sebelum belajar bermanfaat agar anak dan orang tua sama-sama siap menghadapi tantangan selama belajar

• Setelahnya, orang tua dan anak juga perlu mendiskusikan apa yang terjadi selama proses belajar yang sudah dilalui. Dukungan setelah proses belajar bermanfaat agar anak lebih memahami apa yang dipelajarinya

• Dukungan sebelum, saat, dan setelah belajar terdiri dari dukungan fisik dan dukungan psikologis

• Dengan begitu, proses belajar menjadi suatu kesatuan yang utuh dan memberi manfaat yang optimal bagi anak

Sebelum Proses Belajar

Bentuk-bentuk dukungan fisik sebelum proses belajar:

• Mengecek apakah apakah kita dan anak kita dalam keadaan cukup istirahat, sudah makan dan cukup minum

• Mengecek apakah kita sudah cukup istirahat sudah makan dan cukup minum

• Mempersiapkan recana yang akan dipelajari anak. Diskusikan dengan anak agar ia semangat melakukannya

• Mempersiapkan perlengkapan belajar, seperti alat tulis, buku, dan peralatan lain yang memudahkan anak untuk belajar

• Mempersiapkan situasi belajar yang aman dari gangguan. Beri anak ruang khusus untuk belajar. Ruang ini dapat berisi meja lipat, Alat Peraga Edukatif (APE), dan/atau tikar untuk anak ketika belajar.

Menciptakan rutinitas dan rencana belajar

Dukungan secara psikologis sebelum proses belajar dapat berupa menciptakan rutinitas belajar pada anak, antara lain dengan cara:

• Menyusun rencana mingguan mengenai apa yang hendak dipelajari oleh anak dengan mendiskusikannya bersama anak

• Menjalankan rencana tersebut dengan konsisten

Melibatkan anak untuk merencanakan merupakan hal penting karena ia akan termotivasi untuk melakukannya.

Menciptakan rutinitas belajar pada anak penting agar ia menjadi lebih disiplin dan lebih siap untuk memulai belajar karena kebiasaan belajarnya akan terbentuk.

Terkadang, anak belum siap untuk memulai aktivitas belajar meskipun kita sudah membuat jadwal sesuai usia mereka dan memastikan kebutuhan fisik mereka terpenuhi. Apa yang dapat orang tua lakukan jika anak menunda kegiatan belajar?

• Tanyakan apa yang membuatnya belum siap dan tawarkan bantuan

• Beri pilihan, berapa banyak waktu yang ia butuhkan sampai ia siap, misal:

“Kamu mau mulai 5 menit atau 10 menit lagi?” dan biarkan ia memilih. Ingatkan anak 1 menit sebelum waktu tersebut agar ia bersiap. Saat waktunya tiba, mulailah aktivitas tanpa menunda lagi

• Beri kelonggaran waktu, misal: dalam 1 bulan anak diizinkan untuk tidak mengikuti kegiatan belajar sebanyak 2x. Beri ia kebebasan untuk memilih kapan ia mau mengambil ”waktu libur” tersebut

• Beri semangat pada anak dengan menyiapkan minuman atau cemilan kesukaannya jika ia berhasil memulai aktivitas belajar tepat waktu

Memastikan materi ajar sesuai usia dan kemampuan anak

Hal-hal yang dapat dipelajari oleh anak usia 3 hingga 6 tahun, antara lain

• Untuk mengasah kemampuan otot: meronce, mewarnai, menyusun balok, menggambar, bermain sepeda, melipat, menggunting, melompat, berlari, membantu menyiram bunga, menyapu, merapikan mainan, mencuci piring, dsb

• Untuk mengasah kemampuan otak: bernyanyi, mengenal warna, mengenal huruf, mengenal angka, mengenal bentuk, menghitung,menyebut nama hewan, mengelompokkan benda, mengenal urutan dan pola, dsb

Dengan materi ajar yang sesuai, anak mampu menyelesaikan tugas dengan mandiri dan minim bantuan. Hal ini dapat meningkatkan kemampuan dan kepercayaan dirinya dalam belajar.

Persiapan Diri Orang Tua

Selain anak, orang tua juga harus mempersiapkan diri sebelum mendampingi anak belajar. Berikut hal yang perlu dipastikan sebelum orang tua mendampingi anak memulai aktivitas belajarnya:

• Bisa kah kita bersabar untuk melihat proses belajar anak yang tidak selalu mulus/lancar?

• Apakah kita memiliki tuntutan/target tertentu terhadap anak?

• Apakah kita siap menerima proses belajar anak tanpa membandingkannya dengan anak lain?

• Apakah kita siap untuk membimbingnya tanpa amarah?

• Apakah kita memberi ruang untuk anak melakukan kesalahan?

• Apakah kita dalam kondisi yang cukup sehat untuk mendampingi anak belajar?

Sepertinya tidak berhubungan langsung, padahal kesiapan orang tua merupakan hal penting yang dapat mendukung keberhasilan belajar anak di rumah.

Saat Mendampingi Anak Belajar

Dukungan secara fisik saat proses belajar berlangsung antara lain dapat berupa menyiapkan benda-benda yang dibutuhkan anak untuk belajar.

Benda-benda yang dapat digunakan bisa merupakan benda yang ada di rumah, misal kelereng untuk belajar menghitung, atau buah-buahan untuk mengenal warna.

Mengapa anak perlu benda untuk belajar?

Di usia 3-6 tahun, anak membutuhkan benda konkret untuk membantunya belajar. Ia perlu melihat, mendengar, menyentuh, merasakan, dan menghidu (mencium bau) secara langsung agar dapat memahami sesuatu.

Akan lebih mudah bagi anak untuk memahami cara menghitung 3+4 jika kita memberinya benda untuk dihitung satu persatu, dibandingkan hanya memintanya menuliskan jawaban langsung di kertas.

Begitu pula ketika harus mengenal hal-hal lain yang baru diketahuinya. Sebisa mungkin, berikan anak kesempatan untuk belajar secara langsung dengan benda konkrit.

Perhatikan rentang perhatian anak sesuai usia

Selain memastikan materi ajar sesuai dengan usia anak, orang tua juga dapat memastikan seberapa lama anak bisa mempertahankan perhatiannya untuk belajar.

Anak usia 3-6 tahun belum mampu bertahan terlalu lama dalam satu kegiatan belajar, jadi sangat wajar jika ia terlihat mudah bosan atau meminta berhenti sebelum aktivitas selesai.

Penting untuk mengetahui rentang ini, agar orang tua dapat menyesuaikan tingkat kesulitan tugas dan berapa lama waktu belajar bagi anak yang dijadwalkan.

Namun, rentang perhatian anak bisa bertahan cukup lama jika aktifitas yang dilakukan sangat mengasyikkan bagi mereka. Jadi, kreativitas ayah bunda untuk membuat materi ajar menarik sangat diperlukan.

Memberi anak target sesuai usia

Setelah mengetahui rentang perhatian anak sesuai dengan usianya, orang tua dapat memperkirakan tugas-tugas seperti apa yang dapat diselesaikan anak dengan fokus.

Memberi anak target yang sesuai dengan kemampuan dan rentang perhatiannya secara tidak langsung membantu mereka agar dapat menyelesaikan tugasnya dengan baik.

Jika anak dapat menyelesaikan tugasnya dengan baik, ia akan merasa puas dan bersemangat untuk melakukan kegiatan belajar di waktu-waktu lainnya.

Sebagai contoh, tugas motorik halus dengan mencocokkan warna dan angka seperti gambar di samping mungkin lebih sesuai untuk dikerjakan oleh anak usia 6 tahun dibandingkan anak-anak dengan usia lebih kecil.

Selain melatih kemampuan mewarnai, tugas ini juga membutuhkan ketelitian dan kemampuan mengenal warna dan angka, sehingga butuh waktu cukup lama untuk mengerjakannya.

Memberi anak target sesuai usia

Orang tua dapat memberi tugas mewarnai dengan tingkat kesulitan yang lebih rendah. Misalnya, dengan bidang mewarnai yang lebih besar dan gambar yang lebih sederhana, seperti gambar ini.

Orang tua dapat memberi anak kebebasan untuk memilih alat gambarnya, apakah mau menggunakan pinsil warna, krayon, cat air, dsb. Hal tersebut bisa disesuaikan dengan kemampuan masing- masing keluarga.

Di usia 3-4 tahun, aktivitas mewarnai bertujuan untuk belajar mengenal warna, menggenggam alat tulis dengan tepat, mewarnai dengan telliti, dan menyelesaikan tugas yang sudah dimulai.

Tujuan-tujuan ini berubah seiring dengan perkembangan usia anak.

Memecah tugas ke tahapan yang lebih kecil

Orang tua juga dapat membagi tugas yang dinilai cukup berat dan membutuhkan waktu yang lebih lama dari rentang perhatian anak, ke dalam tugas-tugas kecil yang lebih ringan.

Misal, orang tua memberi tugas pada anak usia 4 tahun untuk membuat prakarya hewan menggunakan gulungan tisu bekas. Orang tua dapat membagi tugas tersebut ke dalam tugas-tugas kecil sebagai berikut:

• Senin: Mengecat gulungan tissue dengan cat air (20 menit)

• Selasa: Menggambar dan mewarnai detil wajah hewan (20 menit)

• Rabu: Memotong dan menempel detil wajah hewan ke gulungan tisu yang sudah dicat (20 menit)

Untuk selengkapnya lagsung saj download file Mendampingi Anak Belajar di Rumah dengan klik Link di bawah ini.

Mendampingi Anak Belajar di Rumah Download

Sumber file: Anggunpaud.krmrndikbud.go.id

  

Posting Komentar untuk "Buku Seri Mendampingi Anak Belajar di Rumah"